Tuesday, 3 September 2013

Sepakbola, Pembinaan, Perempuan



Bagi para penikmat sepak bola seperti saya ada satu hal yang selalu di tunggu di awal bulan september seperti ini, bursa transfer. Ya di eropa bursa transfer musim panas ditutup pada awal september. Ini artinya jika sejak 3 september nanti tidak akan ada lagi proses perpindahan pemain dari 1 tim ke tim lain seperti yang marak terjadi. Sejauh ini ada banyak
isu-isu besar mengenai perpindahan pemain. Mulai dari transfer fantastis Gareth Bale yang akan dilepas Tottenham seharga 1,4 triliun rupiah, kabar hengkangnya Rooney dari Old Trafford, hingga kisah Manchester United yang sudah berusaha PDKT  ke Thiago Alcantara tapi Thiago lebih milih Munchen. Kisah yang ketiga juga sering terjadi di kalangan para remaja, mereka suka menyebutnya dengan PHP.

Saya sebagai salah satu penggemar Manchester United tentunya merasa kecewa dengan ketidakberhasilan tim mendatangkan bintang baru di bursa transfer musim panas kali ini. Tapi yang saya kagumi adalah mulai menonjolnya karir dari beberapa bintang-bintang muda binaan akademi seperti Adnan Januzaj. Inilah hal yang dibutuhkan oleh sepakbola Indonesia: PEMBINAAN.
Indonesia sendiri sekarang sudah berusaha untuk membina talenta-talenta muda sejak usia belia. Sekolah sepakbola mulai berjamuran, ditambah lagi program pemerintah yang mengirim pemain muda potensial berguru ke luar negeri, dan juga mengadakan kompetisi antar pemain muda melalui liga pelajar Indonesia atau lebih dikenal dengan LPI.

Saya sendiri akhir-akhir ini lagi sering-seringnya nonton LPI tingkat kota yang diselenggarakan di Gorontalo. Tak hanya soal permainannya yang bagus, tapi kadang kita juga akan menemui beberapa suporter perempuan yang juga tidak kalah menghibur dari pertandingan di lapangan. Saking menghiburnya kadang saya lebih suka menengok ke arah tribun daripada ke dalam lapangan, kadang sih.

Kembali ke lapangan. LPI sendiri adalah liga yang diselengarakan dimana tim yang bertanding adalah SMP dan SMA yang ada di Indonesia. Pertandingannya sendiri dimulai dari tingkat kota atau kabupaten, setelah itu juara dari tiap-tiap daerah dikumpulkan lagi dan bertanding di tingkat provinsi, juara dari tiap provinsi nantinya akan bertanding ditingkat regional dan akhirnya juara regional yang akan bertanding secara nasional.

Katanya LPI ini diadakan untuk melihat bibit-bibit muda yang nantinya dapat diandalkan bagi Indonesia. Katanya juga kita harus menjaga dan mendidik bibit-bibit muda secara benar agar nantinya dapat berguna bagi bangsa dan negara. Semua juga tahu jika sepakbola Indonesia sangat disegani dunia ketika levelnya adalah kategori usia dibawah 15 tahun, entah karena buruknya pembinaan maka bibit-bibit yang bagus itu malah rusak dan menjadi jelek ketika berada di usia yang seharusnya bisa memperkuat tim senior.

Bibit pemain masa depan
Bagi saya, selain untuk melihat bakat pemain muda, LPI juga bisa digunakan untuk melihat bibit-bibit perempuan muda yang nantinya akan menonton LPI. Sama seperti sepakbola, kita juga harus bisa menjaga perempan itu secara baik dan benar. Salah satu masalah yang kita hadapi sekarang ini adalah kacaunya keadaan perempuan muda kita. Jika kita cermati setiap harinya ada begitu banyak maslah dikalangan itu. Mulai dari pesta miras, narkoba, bahkan hingga menjual diri. Saya adalah orang yang percaya jika kita tidak bisa menghilangkan kebiasaan “buruk” itu secara langsung, tapi kita bisa meniadakannya lewat pembinaan yang baik sedini mungkin.

Bibit perempuan masa depan
 Semoga dengan berakhirnya tulisan ini sepakbola dan generasi perempuan di Indonesia akan bisa lebih baik.
Share:

0 komentar:

Post a Comment