Sunday, 21 August 2016

Pilihan Jalan Pulang



“Sepertinya sudah lumayan lama rasanya saya tidak menulis di blog.” Kalimat ini terlintas di kepala saya ketika sedang membawa koper ke mobil jemputan yang udah nunggu di depan kos. Saya mulai menulis saat saya kuliah, di sebuah kos-kosan di kota Malang. Tak ada ide buat menulis memang, tapi perjalanan pulang dari Malang menuju Gorontalo membuat saya ingin sedikit bercerita. Pulang memang selalu menghadirkan bahagia.

 Perjalanan ke bandara Juanda saya tempuh dengan menggunakan mobil travel.  Karena kursi lainnya sudah dipesan jadi saya harus duduk dikursi paling belakang, kursi horor yang membuat saya kepikiran bakal muntah jika duduk disitu. Alhasil sepanjang perjalanan saya harus berjuang untuk sikut-sikutan sama barang penumpang lain yang rasanya kayak orang pulang haji. Apalah daya perjalanan terkadang memang membutuhkan pengorbanan.

Sampai bandara saya segera masuk ke dalam bandara. Pintu masuk menuju bandara ini bagi saya cukup lucu. Satu pintu yang dimasuki oleh semua orang. Bedanya ekspresi orang yang masuk berbeda-beda. Ada yang senang pas masuk di bandara seperti saya, tapi tak jarang juga wajah sedih menghiasi pintu masuk ke bandara.
Ruang tunggu bandara juga tak kalah lucu. Sebagai mahasiswa jurusan psikologi tentunya memperhatikan orang menjadi sangat asik bagi saya. entahlah, sebuah kegiatan iseng yang membahagiakan.

Ada beberapa hal yang saya sadari ketika ada di ruang tunggu bandara. Hal pertama yang saya sadari adalah bahwa di Indonesia kadang barang bawaan jauh lebih berharga ketimbang kaki yang sabar berdiri karena gak kebagian tempat duduk pas diruang tunggu. Kebetulan waktu saya di bandara ada beberapa pesawat delay yang mau gak mau bikin penumpukan penumpang di ruang tunggu, hasilnya kardus indomie bisa menatap dengan senyum sama calon penumpang lain yang berdiri dan duduk di lantai.
Keadaan yang tidak nyaman bagi mereka yang gak kebagian tempat duduk juga menghadirkan keanehan. Kira-kira jarak sekitar 10 meter di sebelah kiri saya ada seorang adek perempuan yang dengan sigap ngeluarin handphone sama tongsis, kemudian dengan begitu syahdu ngomong-ngomong ke kamera dengan latar orang yang lagi dalam keadaan tak nyaman. Mungkin sekarang anak muda memang banyak yang berbakat jadi reporter atau malah banyak yang berharap terkenal dengan memanfaatkan banyaknya sosial media yang memang memudahkan orang buat cepat terkenal. Untung saya gak separah itu, palingan saya cuma main Bigo.

Hal lainnya yang saya temui di saat situasi delay di ruang tunggu adalah pasangan suami istri bersama si anak yang duduk tepat didepan saya dan punya tujuan yang sama dengan saya. Mereka tidak aneh ketika duduk, baru pas pesawat dipanggil keanehan muncul. Semua barang bawaan mulai dari tas yang di tenteng, ransel anak, kardus, ransel si bapak, bahkan tas si ibu dibawa sama si bapak. Si istri? Jalan dengan santai sambil main hp. Meme perempuan selalu benar sepertinya memang sesuai dengan kenyataan.
Setelah lama bercerita dengan saya ada satu poin yang saya dapat dari si bapak. Kata bapak kenapa dia bisa sesabar itu sama si istri karena dia cinta sama istri, bukan sekedar suka. Bedanya? Bedanya terletak kalo kita suka bunga maka kita akan memetiknya dan membawa pulang kerumah, sebaliknya kalo cinta maka akan kita sirami setiap hari hingga dia tumbuh dengan indah. Jawaban yang sangat bijak, akan tetapi saya baru sadar ternyata itu ada di meme saat saya sudah berada di lokasi rumah.

Perjalanan pulang memang selalu membahagiakan. Saya memang tidak bisa mengulas semua yang saya temui karena memang saya bukan orang yang pandai bercerita. Jangankan buat nulis di blog yang panjang, mau giliran maju depan kelas buat cerita pengalaman liburan di rumah nenek pas masuk setelah libur panjang aja saya lari kok.
Tapi dari perjalanan saya di tanggal 8 Agustus kemarin saya belajar jika perempuan memang selalu benar dan lelaki harus berkorban demi perempuan, apalagi kalo udah menikah. Udah disebutin dadalam Quran surat Annisa ayat 34 kalo laki-laki emang pelindung bagi wanita. Selain itu saya juga belajar kalo selalu ada cara bahagia meskipun disaat yang membuat tidak nyaman, kayak si adek yang langsung ngeluarin tongsis di tengah padatnya ruang tunggu. Suasana padat ruang tunggu juga mengajarkan bahwa terkadang orang tidak peduli sama orang yang tidak dikenalinya, layaknya kardus yang dibawa dari rumah lebih layak “diberikan” tempat duduk ketimbang orang lain yang baru saja ketemu di bandara. Hal terakhir yang saya pelajari datang dari pintu masuk bandara, yaitu perjalanan menjelaskan bahwa hidup juga memiliki dua terminal: untuk mereka yang datang dan untuk mereka yang akan pergi.
Share:

1 comment:

  1. Pulang memang selalu punya cerita tersendiri. Terminal, Bandara, stasiun atau apapunlah, adalah tempat yg dibenci sekaligus dinanti. Dibenci saat akan kembali ke perantauan dab dinanti ketika mau pulang.

    ReplyDelete